
Sungguh benar-benar saya merasa orang yang bodoh. Banyak sekali dalam segala hal di dunia yang tidak saya mengerti dan pahami. Maklumlah pendidikan yang tidak memadai. Dan sungguh pula pendidikan itu benar-benar sangaattt penting. Tapi sayang orang tua tak mampu untuk menyekolahkanku dengan alasan biaya. Makanya nabuuungggg dooonnnggg...!!?? Nabung apaan....!!!?? Yang mau ditabungnya juga ga ada...!!!
Masih berbicara tentang menabung utamanya di bank, banyak sekali bank-bank yang menawarkan banyak hadiah undian mulai dari yang paling murah hingga paling mahal, mulai dari payung hingga mobil-mobil mewah sekelas mercedes benz bahkan jumlahnya bisa puluhan ataupun ratusan. Saya tidak habis mengerti, kira-kira dari mana ya bank mendapatkan uang untuk membeli hadiah-hadiah itu..?
Tentu kalau dihitung nominalnya bukan jutaan lagi tapi bisa jadi miliaran rupiah... Kalau menurut perkiraan saya sih ya tentunya uang tersebut dari nasabah-nasabah juga. Apalagi kalau bukan potongan tiap bulannya dari uang kita. Semakin tinggi hadiah yang ditawarkan oleh bank, maka akan semakin gede juga bank memotong uang kita. Misalkan saja saya menabung sebesar 100 ribu rupiah di bank A yang menawarkan hadiah undian 20 mercedes benz dan tiap bulannya ada potongan biaya administrasi dll sebesar 5000 rupiah. Dalam jangka waktu satu tahun uang yang 100 ribu tersebut boro-boro bisa bertahan 100 ribu apalagi bertambah, yang ada malah menyusut menjadi 40 ribu rupiah, dan sisanya yang 60 ribu rupiah dihabiskan untuk potongan bank.
Ironisnya yang mendapatkan hadiah itu rata-rata orang yang menabung dengan jumlah yang tinggi yang notabene adalah orang-orang kaya, karena undian ini biasanya berdasarkan sistem poin. Poin ini biasanya merupakan faktor kelipatan. Kalau 1 poin dihargai 100 ribu rupiah, maka yang menabung 100 juta akan mendapatkan seribu poin. Hanya keberuntungan saja bagi pemilik 1 poin untuk bisa mendapatkan hadiah. Satu berbanding seribuuuu..., tentu anda sudah bisa menebak siapa pemenangnya. Maka tepatlah disini dengan peribahasa " Si Kaya Makin Kaya, dan Si Miskin Makin Miskin ".
Atau bisa juga bank mendapatkan uang dari yang lainnya, misalnya dari penyaluran kredit dari uang nasabah yang terkumpul. Tentu dari kredit tersebut akan ditarik bunga pinjaman kepada para kreditor. Tapi pada kenyataannya, bank-bank cenderung takut menyalurkan kreditnya, terutama kepada kelas menengah kebawah karena takut resiko uang tidak kembali atau biasa disebut dengan istilah kredit macet. Mungkin bank-bank lebih nyaman menimbun uang nasabah tersebut di bank sentral hanya sekedar untuk mendapatkan bunga bank tanpa harus repot-repot dan bersusah payah menagih-nagih kepada para kreditor jika uang tersebut disalurkan untuk kredit. Jika sudah begini, kapan perekonomian kita akan maju? Kapan pula orang-orang miskin akan berubah nasibnya menjadi lebih baik jika tidak didukung satu sama lain..?